MAJALENGKA, fajarsatu – Hobi mendaki gunung menjadi salah satu kegiatan alam yang tak pernah sepi peminat. Para pecinta alam tentunya pernah mendaki gunung minimal sekali dalam hidupnya.
Banyak orang hanya bisa menaklukan tantangan saat mendaki dan mencapai puncaknya. Namun, hanya sedikit orang ingat akan kebersihan gunung. Jadi, bawalah kembali sampah jangan mengotori lingkungan.
Pesan ini disampaikan salah satu pegiat lingkungan hidup dan aktivis Himpunan Pencinta Alama Majalengka (Hipama) Surya Sarjono, yang sering mendaki Gunung Ciremai.
“Kegiatan pendakian gunung ini sebenarnya memiliki banyak filosofi dan seni yang hanya bisa dirasakan bagi seseorang yang pernah mendaki. Tapi jangan lupa juga peliharalah alam dengan membawa kembali sampah jangan tinggalkan sampah di gunung,” serunya, Rabu (30/9/2020).
Menurut Sarjono, yang ditemui di Pos Pendakian jalur Apuy, Desa Argamukti, Kecamatan Argapura. Kabupaten Majalengka. Dirinya sudah menyampaikan kepada pengelola TNGC agar mengimbau para pendaki agar membawa kembali sampah dan dikumpulkan di pos.
Hal serupa dikatakan James Barna, Pengelola Pendakian Gunung Ciremai (PPGC) Jalur Linggajati. “Setiap pendaki, kami cek perlengkapan logistik dan peralatannya. Kalau belum lengkap ya kami minta dipenuhi dulu,” tegasnya.
Menurutnya, selain di cek, perlengkapan pendaki juga dicatat dalam formulir sesuai prosedur sebelum keberangkatan pendaki di base camp.
“Pas turun mendaki, kami juga cek logistiknya. Kami cermati sampahnya. Bila kurang, ya ada sanksinya,” katanya.
Meski demikian, kata Sarjono, masih terdapat indikasi keberadaan sampah anorganik di jalur pendakian. Oleh karenanya PPGC Linggajati menggelar Operasi Bersih (OBSIH) pada 26 sampai 27 September 2020 lalu.
Kegiatan ini dilakukan lima Ranger Linggajati pada beberapa titik yang sudah ditandai untuk sterilisasi sampah. “Kayaknya ini sampah lawas. Sudah tahunan,” ujar Ewer, Ranger Linggajati.
Ewer menambahkan, Ranger berhasil menurunkan enam karung sampah anorganik.
“Sampah jenis plastik ada 40 persen, sampah jenis kain ada 20 persen, dan sampah jenis kaca atau beling ada 40 persen. 80 persen sampah dibuang, sisanya masih ada yang bisa diolah menjadi suatu barang” ujarnya.
Baik Sarjono mauun Ewer, berharap pendaki membawa turun kembali sampahnya. Dirinya juga berharap mesin pengolah sampah yang dijanjikan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) segera terealisasi.
“Harap bawa turun lagi sampahmu. Karena sampahmu sebanyak dosamu,” pungkasnya. (gan)