CIREBON – Pelaksanaan demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 yang meliput Pemilihan Legislatif (Pileg), Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilhan Kepala Daerah (Pilkada) serentak yang sudah diputuskan Komisi Pemilihan Umum (KPU) bersama DPR RI.
KPU bersama pimpinan DPR RI telah menyepakati tahapan dan penyelenggaraan Pemilu 2024 setelah mereka melakukan rapat konsultasi pada Senin (6/6/2022) lalu. Adapun jadwal Pemilu nasional serentak diselenggarakan pada 14 Februari 2024 dan Pilkada pada 27 November 2024.
Semantara, jadwal pendaftaran partai politik peserta pemilu ditetapkan pada Agustus 2022, dilanjutkan verifikasi parpol calon peserta pemilu akan dilaksanakan atau ditetapkan pada Desember 2022.
Selain jadwan pelaksanaan pemilu, KPU bersama DPR RI juga telah menetapkan biaya tahapan sampai pelaksanaan Pemilu 2024 sebesar Rp 76,6 triliun.
Menanggapi pelaksanaan Pemilu 2024, Guru Besar Hukum IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Prof. DR. H. Sugianto, SH, MH menganggap Pemilu 2024 sebagai pencerminan poliitik 2019 karena regulasi pelaksanaan pemilu masih mengacu produk lama yaitu UU No 7 Tahun 2017 atas perubahan dari UU No 15 Tahun 2011 tentang Pemilu dan termasuk juga UU No. 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, bupati/ walikota sebagai kepala Daerah.
“Prediksi politik Pilpres 2024 tidak lepas dari pencerminan politik Pemilu 2019 yang diprediksi Pemilu Pilpres 2024 bisa diikuti tiga kostestan pasangan capres- cawapres,” kata Sugianto kepada fajarsatu.com melalui sambungan telepon selular, Minggu (19/6/2022).
Pasalnya, lanjutnya, Partai Nasdem walaupun Pemilu dilaksanakan pada Feruari 2024, artinya 18 bulan lagi, tetapi sudah mendeklarasikan tiga publik figur potensial walaupun ketiganya bukan penguasa Parpol.
Tambah Sugianto, hal tersebut bisa ditawarkan untuk kolaborasi (koalisi) dengan parpol lain yang memiliki kursi di DPR RI, seperti dengan PDIP, Golkar, Gerindra, PKB, PKS dan parpol lainnya.
“Pengamatan saya, pemilu yang akan dilaksanakan pada 2024 baik pilpres, pileg atau pilkada strategi politik mengacu pada politik Pemilu 2019,” ujarnya.
Untuk sementara ini, kata Sugiato, Nasdem menunggu action dari PDIP, Gerindra, PKB, PKS dan paorpol lannya yang memiliki kursi DPR RI siapa yang akan dijagokan.
“Sebaiknya tidak harus malu-malu, segera munculkan ke publik figur yang akan diusung sebagai pasangan Capres-Cawapres 2024 biar masyarakat bisa menilai karena saat ini,banyak figur-figur militan dan negarawan,” kata Sugianto.
Ia berharap, parpol harus terbuka dan konsisten untuk memutuskan pasangan capres-cawapre pada Pilpres 2024 mendatang. (irgun)