CIREBON – Al Bahjah Tour & Travel menggelar manasik umrah untuk pemberangkatan pada pada 6 Agustus 2022, 8 Agustus 2022 dan 19 Agustus 2022 yang berlangsung di Lantai 6 Apita Tower Hotel, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Sabtu (2/6/2022).
Manager Al Bahjah Tour & Travel, Maulana Firmansyah mengatakan, keberangkatan jamaah umrah yang digelar pada Agustus 2022 mendatang dibagi dalam tiga kelompok terbang (kloter).
“Pada Program 6 Agustus 2022 diberangkatkan sebanyak 42 jamaah didampingi TL Ustadz Zaenal Arifin, program 8 Agustus 2022 sebanyak 45 jamaah dengan TL Letda (purn) Priyo Supono dan program 19 Agustus 2022 sebanyak 41 jamaah didampingi TL Ustadz Sholahuddin,” jelas pria yang akrab disapa Ustadz Firman ini.
“Alhamdulillah, untuk pemberangkatan pada Agustus 2022 mendatang, total jamaah yang kami berangkatkan sebanyak 128 calon jamaah umrah dengan menggunakan pesawat Saudi Airline,” katanya.
Pelaksanaan manasik umrah ini juga dihadiri Direktur Al Bahjah Tour & Travel, Ustadz Syariful Hidayat dan seluruh pengelola Al Bahjah Tour & Travel Cirebon.
Dikatakan Direktur Al Bahjah Tour & Travel, Ustadz Syariful Hidayat, dirinya sangat bersyukur pelaksanaan manasik umrah ini berjalan sukses sesuai rencana dan dihadiri sebagian besar jamaah yang akan berangkat pada Agustus 2022 mendatang.
Ia menambahkan, para calon tamu Allah ini harus mempersiapkan hati untuk umrah sebab siapa pun yang menjadi tamu Allah, tentunya sudah melalui proses pemilihan dan calon jamaah ini merupakan orang yang terpilih menjadi tamu Allah.
Dikatakannya, pelaksanaan manasik ini untuk memahami rukun umrah, antara lain Niat/Ihram, Tawaf, Sa’i, Tahallul dan Tertib.
“Niat atau Ihram artinya semua kegiatan pasti diawali dengan niat, termasuk ibadah umroh. Dalam ibadah umroh, niat ini diberi istilah ihram. Orang yang akan melakukan ibadah umroh menggunakan pakaian ihram atau kain tanpa jahitan dan melafazkan niat dari Miqat yang merupakan titik awal memulai ibadah umroh,” kata Ustadz Syariful.
Rukun umroh selanjutnya, lanjutnya, adalah tawaf atau mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Titik awal Thawaf ini dimulai dari Hajar Aswad dan dianjurkan untuk mengusap Hajar Aswad ketika melewatinya. Bila tidak memungkinkan untuk mengusap Hajar Aswad, jama’ah diperbolehkan dengan hanya memberi isyarat berupa lambaian tangan ke arah Hajar Aswad.
“Ketika melakukan Thawaf kita diperbolehkan pula untuk berdzikir maupun melafadzkan doa atau harapan yang dimiliki,” ucapnya.
Kemudian Sa’i yang artinya berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah. Rukun umrah yang satu ini dilakukan sebanyak tujuh kali disunahkan untuk memanjatkan doa yang diinginkan.
“Rangkaian ibadah Sa’i ini berasal dari kisah Siti Hajar ketika mencarikan minum bagi Ismail saat masih kecil. Istri nabi Ibrahim itu berlari bolak-balik mencari air dari sumber mata air yang kini dikenal dengan mata air zam-zam,” jelas Ustadz Syariful
Rukun umroh yang berikutnya adalah Tahallul yang bermakna melepaskan diri dari larangan ihram seperti mencukur rambut atau menggunting rambut paling sedikit tiga helai rambut.
Dijelaskan Ustadz Syariful, Tahallul ini dilakukan di luar Masjidil Haram dekat Bukit Marwah. Setelah melakukan Tahallul, jama’ah bebas dari larangan ketika menunaikan ibadah umrah.
“Rukun umrah yang terakhir adalah tertib yang memiliki maksud bahwa para jama’ah ibadah umrah harus melaksanakan segala rukun umrah satu persatu atau sesuai urutan dan aturan yang ditetapkan,” katanya.
Dikatakan Ustadz Syariful, dalam melakukan niat ihram (miqat) yang akan dilakukan di dalam pesawat saat melewati Bukit Yalamlam dan turun dari pesawat sudah memakai ihram dilanjutkan menyimpan barang bawaan di hotel, setelah itu thawaf sebanyak tujuh kali mengelilingi Kabah, sa’i habis itu potong rambut (tahalul).
“Dalam melakukan thawaf jangan berdoa macam-macam karena doa itu ada tempatnya masing-masing tapi doa yang terbaik yaitu Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulk la syarika laka,” pungkasnya. (irgun)