CIREBON – Al Bahjah Tour & Travel menggelar manasik umrah untuk pemberangkatan pada pada 19 Oktober dan 27 Oktober 2022 yang berlangsung di Lantai 3 Apita Tower Hotel, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Sabtu (15/10/2022).
Pelaksanaan manasik umrah ini juga dihadiri Direktur Al Bahjah Tour & Travel, Ustad Syariful Hidayat dan seluruh pengelola Al Bahjah Tour & Travel Cirebon serta calon jamaah umrah yang akan berangkat ke tanah suci pada 19 dan 26 Oktober 2022.
Manager Al Bahjah Tour & Travel, Maulana Firmansyah mengatakan, keberangkatan jamaah umrah yang digelar pada Oktober 2022 ini dibagi dalam dua kelompok terbang (kloter).
“Pada Program 19 Oktober 2022 diberangkatkan sebanyak 29 jamaah didampingi TL H. Budi menggunakan pesawat Turkish Airline dan 26 Oktober 2022 sebanyak 40 jamaah dengan TL Ustadz Yoshi dan Ustadz Ricky menggunakan pesawat Garuda Airlines,” jelas pria yang akrab disapa Ustad Firman ini.
Dikatakan Firman, dirinya sangat bersyukur pelaksanaan manasik umrah ini berjalan sukses sesuai rencana dan dihadiri sebagian besar jamaah yang akan berangkat pada Oktobert 2022 mendatang.
Ia menambahkan, para calon tamu Allah ini harus mempersiapkan hati untuk umrah sebab siapa pun yang menjadi tamu Allah, tentunya sudah melalui proses pemilihan dan calon jamaah ini merupakan orang yang terpilih menjadi tamu Allah.
Dikatakannya, pelaksanaan manasik ini untuk memahami rukun umrah, antara lain Niat/Ihram, Tawaf, Sa’i, Tahallul dan Tertib.
“Niat atau Ihram artinya semua kegiatan pasti diawali dengan niat, termasuk ibadah umroh. Dalam ibadah umroh, niat ini diberi istilah ihram. Orang yang akan melakukan ibadah umroh menggunakan pakaian ihram atau kain tanpa jahitan dan melafazkan niat dari Miqat yang merupakan titik awal memulai ibadah umroh,” kata Firman.
Rukun umroh selanjutnya, lanjutnya, adalah tawaf atau mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Titik awal Thawaf ini dimulai dari Hajar Aswad dan dianjurkan untuk mengusap Hajar Aswad ketika melewatinya. Bila tidak memungkinkan untuk mengusap Hajar Aswad, jama’ah diperbolehkan dengan hanya memberi isyarat berupa lambaian tangan ke arah Hajar Aswad.
“Ketika melakukan Thawaf kita diperbolehkan pula untuk berdzikir maupun melafadzkan doa atau harapan yang dimiliki,” ucapnya.
Kemudian Sa’i yang artinya berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah. Rukun umrah yang satu ini dilakukan sebanyak tujuh kali disunahkan untuk memanjatkan doa yang diinginkan.
“Rangkaian ibadah Sa’i ini berasal dari kisah Siti Hajar ketika mencarikan minum bagi Ismail saat masih kecil. Istri nabi Ibrahim itu berlari bolak-balik mencari air dari sumber mata air yang kini dikenal dengan mata air zam-zam,” jelas Ustadz Syariful
Rukun umroh yang berikutnya adalah Tahallul yang bermakna melepaskan diri dari larangan ihram seperti mencukur rambut atau menggunting rambut paling sedikit tiga helai rambut.
Dijelaskan Firman, Tahallul ini dilakukan di luar Masjidil Haram dekat Bukit Marwah. Setelah melakukan Tahallul, jamaah bebas dari larangan ketika menunaikan ibadah umrah.
“Rukun umrah yang terakhir adalah tertib yang memiliki maksud bahwa para jama’ah ibadah umrah harus melaksanakan segala rukun umrah satu persatu atau sesuai urutan dan aturan yang ditetapkan,” katanya.
Tambah Firman, dalam melakukan niat ihram (miqat) yang akan dilakukan di dalam pesawat saat melewati Bukit Yalamlam dan turun dari pesawat sudah memakai ihram dilanjutkan menyimpan barang bawaan di hotel, setelah itu thawaf sebanyak tujuh kali mengelilingi Kabah, sa’i habis itu potong rambut (tahalul). (irgun)