CIREBON, fajarsatu.com – Seluas 250 hektare lahan pertanian tanaman padi di Desa Bayalangu Lor Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon, hingga saat ini masih terendam banjir, pasca banjir Selasa (24/1/2023) lalu.
Memasuki hari ke-4 pasca banjir, area sawah di Bayalangu Lor masih terendam air, kondisi area sawah dipenuhi air bagaikan lautan hingga tanaman padi baru tanam tak terlihat.
Para petani pun hanya bisa pasrah menghadapi bencana banjir yang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Cirebon. Petani berharap banjir segera surut agar bisa melakukan tanam ulang meski harus mengeluarkan biaya lagi.
Salah seorang petani Carsan mengatakan, kalau dirinya memiliki area sawah 2,5 hektare, yang saat ini masih terendam banjir.
“Saya sudah melakukan tanam dua kali, saat pertama tanam tiba-tiba banjir datang karena intensitas hujan yang tinggi, sehingga saya kembali melakukan tanam kedua sekarang, tapi banjir datang lagi lebih parah, hingga sawah yang baru tanam terendam lagi,” Paparnya, Kamis (26/1/2023).
Lanjut Carsan, di Blok Asem Cilik Desa Bayalangu Lor ada sekitar 250 hektar sawah yang masih terendam banjir. Hingga sekarang kondisi air masih menggenangi area sawah.
“Petani saat ini bingung, menunggu surut untuk melakukan tanam ulang, tapi harus mengeluarkan biaya lagi, bagi petani yang punya modal bisa melakukan tanam ulang, tapi yang tidak punya modal harus cari ngutang sana-sini dulu,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah bisa turun langsung kelapangan bisa membantu para petani yang area sawahnya terendam banjir.
Hal senada juga disampaikan petani lainnya, Mardi. Menurutnya petani seperti dirinya bingung karena tak memiliki modal untuk melakukan tanam ulang.
“Saya ada dua hektar yang terkena banjir, dan itu baru saja melakukan tanam, kalau sekarang harus tanam lagi biaya darimana,” Katanya.
Ia menceritakan, petani saat terkena banjir bingung selain harus menyiapkan biaya lagi untuk tanam ulang yang mencapai Rp 6 juta lebih sekali tanam. Petani juga harus mencari bibit yang sangat sulit saat sekarang.
“Petani juga harus berebut mencari bibit padi untuk tanam ulang, sehingga harga bibit pun melonjak naik Rp 7.000 hingga 10.000 perikat dan untuk satu hektar membutuhkan 300 ikat sehingga biaya makin membengkak,” ujarnya.
Dikatakan Mardi, bisa dihitung biaya pertanian makin membesar, sedangkan hasilnya untuk 1 hektar hanya dapat 8 ton gabah dengan harga Rp 400 ribu per kwintal.
“Kalau satu hektar 8 ton dikalikan 400 ribu hanya Rp 32 juta saja, tidak sebanding dengan biaya, untuk tanam, untuk sewa lahan, untuk obat-obatan, untuk pupuk, apa lagi kalau sudah terkena banjir,” pungkasnya. (de)