Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Kalo Cinta, Nikah Aja!”
SETIAP manusia terlahir dengan ujian dan pengalaman hidupnya masing-masing. Tragis atau tidaknya sangat ditentukan oleh anugerah Allah atas setiap manusia. Mereka yang bersyukur dan bersabar akan mendapat kemuliaan dan balasan yang terbaik. Namun mereka yang enggan bersyukur dan kalah oleh keadaan pasti mengalami kehidupan tragis yang bertubi-tubi. Namun satu hal yang paling penting bahwa Allah Maha Tahu tentang hamba-Nya. Jadi, bila Ia menguji itu artinya Ia sedang menyiapkan jalan baru yang terbaik dan hamba-Nya naik kelas.
Hari ini Senin 12 Juni 2023 saya baru saja mendapatkan sarapan pagi dan teh manis dari karyawan hotel Pelangi yang berada di Kampung Ujung Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, tempat saya menginap menjelang keberangkatan saya dari Bandara Komodo Labuan Bajo ke Bandara Soekarno Hatta Jakarta, siang ini. Tetiba saya mendapat kabar sekaligus cerita seorang pengajar muda asal Lombok Barat, NTB. Awalnya saya kaget, namun saya mesti mendengar bahkan banyak mendengar, agar diri ini tak berhenti belajar.
Sebut saja namanya Ecy. Kini menjadi pembina di sebuah pondok pesantren dan menjadi mahasiswi di pesantren tetangga di kota yang sama di Lombok Barat. Entah mengapa ia begitu berani bercerita tentang kondisi keluarganya. Tentang ayahnya yang nikah beberapa kali hingga istrinya berjumlah enam orang, termasuk ibunya. Ia anak paling bungsu dari 14 bersaudara. Ia begitu tulus menceritakan tentang apa yang ia alami selama ini, termasuk yang dialami oleh ibunya yang sudah pernah menikah tiga kali.
Dari apa yang dia sampaikan saya menangkap beberapa hal penting sekaligus menyampaikan beberapa catatan yang mudah-mudahan bermanfaat bagi Ecy dan keluarga. Pertama, cerita dan pengalaman Ecy sangat inspiratif dan benar-benar kaya makna dan pesan. Layak dikisahkan kembali kepada siapapun, tentu dengan tujuan menemukan hikmah. Sebab basisnya true story. Mengalami dan merasakan sendiri. Dengan catatan, apapun itu, jangan pernah mendendam. Allah menguji hamba-Nya untuk tujuan baik. Maka tuliskan dan ceritakan kembali, sehingga orang di luar sana bisa belajar.
Kedua, orang-orang besar selalu terlahir dari rahim yang mengalami pengalaman dan ujian hidup yang tragis. Ibunya Ecy adalah sosok malaikat langit yang Allah kirimkan untuk manusia di bumi, terutama untuk kakaknya Ecy yang bernama Tegar dan Ecy sendiri. Karena ini saya berpesan, jadilah orang pertama dan utama yang membuat Ibunya bahagia, sehingga pengalaman hidupnya yang tragis terobati karena bangga dengan prestasi dan akhlak baik Ecy padanya. Bahagiakan Ibu, insyaa Allah dunia bakal membahagiakanmu!
Ketiga, Ecy adalah motivator muda, dengan segala pengalaman dan cerita hidupnya. Sekadar berbagi semangat: “Kamu mesti menjadi Ecy baru, Ecy yang semakin kuat dan tangguh, menjadi pembelajar sejati. Pengalaman adalah guru, tempat kamu belajar tentang bagaiman seharusnya menjalani kehidupan. Kamu mesti menjadi wanita hebat untuk lelaki yang menjadi suamimu kelak, menjadi bunda terbaik bagi anak-anakmu kelak. Pastikan apa yang kamu rasakan tidak pernah dirasakan oleh anak-anakmu kelak.”
Keempat, jadilah ilmuan dan penulis hebat. Ecy adalah sosok pembelajar dan duka menulis. Hal ini diketahui dari cerita panjangnya, termasuk tentang kesukaannya untuk menulis cerpen dan puisi bahkan telah mengikuti beberapa kali audisi. Satu lagi yang tak kalah pentingnya, telah mengikuti olimpiade sains Aliyah tingkat nasional. Potensi ilmu dan keterampilan menulis adalah modal utama dalam meraih berbagai hal yang diciptakan ke depan. Karena itu, apapun profesinya kelak, jadilah penulis yang terus berkarya sampai kapan pun.
Saya sebagai orang kampung dan sudah puluhan tahun merantau dari Lombok NTB, Surabaya Jawa Timur, Bandung dan Cirebon Jawa Barat hingga Jakarta sangat percaya bahwa Allah itu sangat sayang sama hamba-Nya. Bila ada ujian datang bertubi-tubi maka itu pertanda Ia sedang memastikan hamba-Nya naik kelas. Karena itu, jadilah hamba yang pandai bersyukur dan bersabar. Jadilah manusia yang berkarya dan berprestasi termasuk dalam bentuk karya tulis seperti buku. Mari belajar menjadi tangguh dalam segala hal, apapun kondisinya. Semoga sejarah tak lelah bercerita tentang orang-orang hebat yang layak kita teladani! (*)
Hotel Pelangi, Labuan Bajo;, Senin 12 Juni 2023.