Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Membaca Politik Dari Titik Nol”
KITA saksikan fakta politik terbaru: SBY, AHY, Agus Baskoro, Fadli Zon dan Fahri Hamzah menjadi Tim Sukses Gibran, anak Jokowi. Dulu menentang dan benci sekali sama Jokowi, sekarang suka sekali membela Jokowi dan Gibran. Keliru pun dianggap benar dan wajar.
Kita saksikan pula Gunawan Mohamad, Kuntadi dan Adian Napitupulu yang dulunya sangat giat dan habis-habisan membela Jokowi, kini begitu aktif dan geliat menentang sekaligus mencela Jokowi. Benar pun tetap dianggap salah. Pokoknya Jokowi salah!
Dulu barisan PSI, Emanuel dan kawan-kawannya begitu benci pada Prabowo Subiyanto, sosok yang dikalahkan Jokowi pada Pilpres 2014 dan 2019. Kini barisan mereka mendukung habis-habisan Prabowo Subiyanto – Gibran untuk maju di Pilpres 2024.
Sebelum fakta semacam itu terjadi, kita saksikan pada 2019, tepatnya setelah Pilpres 2019, Jokowi pun sukses mengajak Prabowo Subiyanto untuk masuk dalam kabinetnya. Bahkan mantan Pangkostrad ini mendapatkan jabatan strategis: Menteri Pertahanan.
Dalam politik tak ada kawan abadi, yang abadi adalah kepentingan. Kepentingan bukan sekadar nilai-nilai tapi juga jabatan yang diraih. Jadi, tak perlu membenci berlebihan, sebab suatu saat bisa jadi suka. Tak perlu suka berlebihan, sebab suatu saat bisa jadi benci.
Berpolitik boleh tapi sewajarnya saja, tak perlu melampaui batas. Mendukung tokoh atau politisi selayaknya saja, jangan berlebihan. Sebab setiap yang melampaui batas dan berlebihan bakal menimbulkan penyesalan yang panjang dan sakit hati yang lama.
Berpolitik tak perlu mengorbankan darah dan nyawa, cukup berkompetisi dengan modal ide dan materi selayaknya saja. Tak perlu mencela dan menghina mereka yang berbeda pilihan, sebab bisa jadi suatu saat berada dalam satu barisan dukungan politik. Itulah politik.
Pasangan Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar, pasangan Prabowo Subiyanto – Gibran, dan pasangan Ganjar Pranowo – Mahfud MD itu adalah pasangan manusia biasa yang dalam kurva normal memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Dukunglah pasangan yang didukung dengan cara-cara santun dan bermartabat, tak perlu menghina ata8u mencela pasangan lainnya. Sebab bisa jadi saat ini berada pada satu barisan, nanti justru berada pada barisan berbeda. Berpolitik boleh, tapi sewajarnya saja! (*)