Oleh: Andri Dian Suandri, S.Pd.I
(Kepala Sekolah SMP Ponpes Modern Ar Rahmat Majalengka)
SAAT ini kita sudah melewati bulan Rajab. Bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT dan disebut ashurul hurum. Salah satu peristiwa penting bagi ummat Islam pada bulan Rajab ialah Isra’ Mi’raj, yaitu suatu peristiwa agung diluar jangkauan manusia yang hanya bisa diyakini dengan keimanan. Isra’ menurut bahasa berarti perjalanan malam. Sementara menurut istilah Isra ialah perjalanan nabi Muhammad SAW diwaktu malam dari Masjidil Haram (Makkah) menuju Masjidil Aqso di Palestina. Mi’raj menurut bahasa berarti kendaraan, tangga. Sementara menurut istilah ialah naiknya Rasulullah SAW dari Masjidil Aqso menuju Sidrotul Muntaha.
Sebagian besar kaum muslimin begitu antusias mengadakan berbagai kegiatan keagamaan berupa pengajian umum. Selain itu kegiatan-kegiatan seperti bakti sosial, santunan anak yatim piatu serta perlombaan untuk anak-anak dan ibu-ibu Majlis Ta’lim turut melengkapi kegiatan Isra Mi’raj. Pengorbanan berupa tenaga, fikiran, waktu bahkan harta menjadi bukti keimanan dan kebahagiaan mereka dalam menyambut peristiwa agung tersebut.
Jika ditelisik lebih jauh, peristiwa Isra’ Mi’raj menyimpan rahasia besar. Banyak hikmah yang bisa diambil untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Satu dari sekian hikmah yang terdapat pada peristiwa tersebut ialah harmonisnya hubungan manusia dengan manusia (hablum minannaas) dan hubungan manusia dengan Tuhannya (hablum minallah). Pada saat Rasulullah SAW melakukan Isra’ berarti mengisyaratkan kepada kita untuk membangun hubungan baik antara manusia dengan manusia yang lain. Perbedaan adat istiadat, ras, suku bangsa, agama dan budaya menjadi pondasi untuk saling menghargai dan melengkapi. Bukan sebaliknya menjadi media perpecahan. Dalam al-Quran, Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan besuku-suku dan berbangsa-bangsa tiada lain kecuali untuk saling mengenal (Lita’aarofuu).
Namun faktanya masih banyak kelompok manusia yang gontok-gontokan, saling hujat, saling ejek, merasa benar sendiri yang mengakibatkan perpecahan, permusuhan bahkan pembunuhan. Seperti yang terjadi dibeberapa daerah di Indonesia. Berbagai faktor pemicu terjadinya kondisi seperti itu tidak lepas dari lemahnya Iman, minimnya pengetahuan dan pemahaman, memperturut hawa nafsu, termasuk karena faktor ekonomi. Diperparah dengan merebaknya media sosial yang sulit dibendung.
Berawal dari berita hoax yang terus menerus serta kurangnya teliti dalam memfilter berita tersebut sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda. Seperti berita tentang pengeroyokan yang dilakukan oleh sebagian oknum terhadap seorang lansia bernama Wiyanto Halim (88) usai dituduh mencuri di Pulogadung, Jakarta Timur. Korban disangka pencuri karena mengendarai mobil sendiri yang biasanya oleh supir pribadi. Namun setelah dilakukan investigasi oleh pihak kepolisian ternyata korban bukan pencuri. (http://m.bisnis.com).
Kejadian seperti ini akibat kurang hati-hati ketika mendapatkan informasi yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain.
Kemudian Rasulullah SAW melakukan Mi’raj yang mengisyaratkan manusia untuk memperbaiki hubungannya dengan Allah SWT. Hubungan yang baik akan menjadi kekuatan untuk mendapatkan perlindungan dan pertolongan-Nya. Salah satu media untuk menggapai pertolonganNya ialah Shalat. Shalat merupakan ibadah utama yang harus dijalankan oleh kaum muslimin dengan baik. Shalat merupakan satu-satunya ibadah yang langsung diterima nabi Muhammad SAW tanpa perantara malaikat jibril. Shalat juga merupakan cara Allah SWT untuk menjaga manusia dari kerusakan.
Berbagai keutamaan yang didapatkan seseorang ketika melaksanakan shalat. Diantaranya pertama, shalat menjadi obat bagi penyakit lahir. Dalam suatu riwayat, sahabat nabi Muhammad SAW bernama Abu Hurairah mengalami sakit perut sehingga tidak bisa berkatifitas seperti biasanya hanya tiduran diatas kasur. Kemudian Rasulullah SAW menjenguknya lalu menyuruh Abu Hurairoh untuk bangun, namun Abu Hurairoh tidak bangun. Kecuali setelah Rasulullah SAW menyuruhnya sampai tiga kali. KemudianBerbagai keutamaan yang didapatkan seseorang ketika melaksanakan shalat. Diantaranya pertama, shalat menjadi obat bagi penyakit lahir. Dalam suatu riwayat, sahabat nabi Muhammad SAW bernama Abu Hurairah mengalami sakit perut sehingga tidak bisa berkatifitas seperti biasanya hanya tiduran diatas kasur. Kemudian Rasulullah SAW menjenguknya lalu menyuruh Abu Hurairoh untuk bangun, namun Abu Hurairoh tidak bangun. Kecuali setelah Rasulullah SAW menyuruhnya sampai tiga kali. Kemudian beliau menyampaikan bahwa “Shalatlah engkau wahai Abu Hurairoh karena shalat adalah obat bagi berbagai penyakit.” Kemudian Abu Hurairah melaksanakan shalat dan qadarullah sakitnya menjadi hilang.
Kedua, shalat menjadi obat bagi penyakit bathin. Penyakit bathin yang dialami oleh manusia seringkali dapat menghambat aktifitas. Timbulnya rasa, riya, sum’ah iri, dengki, takbur, munafiq menimbulkan berbagai efek negatif apabila tidak segera disembuhkan. Selain merugikan diri sendiri juga orang lain. Seseorang tidak bisa tidur pulas dikarenakan iri melihat kelebihan orang lain. Seseorang merasa lebih baik daripada orang lain dikarenakan terdapat sifat sombong dihatinya. Begitupun dengan berbagai sifat buruk lainnya.
Maka dengan shalat dapat mencegah dari berbagai penyakit tersebut. Karena shalat ibarat air yang mengalir dan bisa digunakan untuk membersihkan badan sampai bersih serta shalat bisa membersihkan hati yang kotor sehingga terhindar dari berbagai penyakit.
Ketiga, shalat adalah ibadah yang tidak bisa ditinggalkan dalam kondisi apapun. Orang sehat, sakit, dikendaraan, bahkan ketika berperangpun shalat tidak boleh ditinggalkan. Rasulullah SAW selalu berpesan kepada ummatnya sebelum beliau wafat, “Asholata, asholata, asholata wama malakat aimanukum.” Titip shalat, titip shalat, titip shalat. Inilah bentuk kekhawatiran Rasulullah SAW kepada ummatnya diakhir zaman yang sudah banyak yang melalaikan juga mempermainkan shalat. Kekhawatiran Rasulullah SAW sudah terjadi di zaman sekarang. Beberapa oknum remaja membuat konten dengan mempermainkan bacaan maupun gerakan shalat agar viral.
Keempat, shalat adalah ibadah yang pertama kali akan dihisab dihari kiamat. Ketika shalatnya baik maka seluruh amalnya dianggap baik namun sebaliknya jika shalatnya buruk maka amal yang lainnya buruk. Shalat memiliki nilai tertinggi dibandingkan dengan amal yang lainnya. Oleh karena itu berlomba-lombalah dalam memelihara shalat.
Peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi bukti kemahakuasaan Allah SWT dan diharapkan Iman seluruh kaum muslimin meningkat sehingga mampu menjaga hubungan baik antara manusia dan hubungan baik manusia dengan sang Kholik. (*)