BANDUNG, fajarsatu.- Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat (Jabar), Dewi Sartika menggelar rapat membahas revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Jln. Dr. Radjiman No. 6, Kota Bandung, Selasa (03/09/2019).
Rapat “Pembahasan Tindak Lanjut Hasil Perjalanan Dinas Luar Negeri Inggris” tersebut, sebagai tindak lanjut kunjungan Gubernur Jabar ke Inggris dan Swedia, berkaitan dengan pengembangan SMK di Jawa Barat.
Rapat ini dihadiri pula oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London, Prof. E. Aminudin Aziz, Ph.D., Dekan Fakultas Pendidikan Teknik dan Kejuruan UPI (Prof. Dr. Ms. Barliana), Direktur Politeknik Bandung (Dr. Rachmad Imbang), Peneliti Pusat Penelitian Teknologi Informasi dan Komunikasi (Agus Sukoco), dan jajaran lainnya.
Kadisdik Jabar, Dewi Sartika menyatakan, lulusan SMK harus memiliki keterampilan di suatu bidang serta memiliki wawasan global. Ini penting agar keterserapan tenaga kerja lulusan SMK terus meningkat.
“Faktor yang menunjang kompetensi lulusan SMK agar dapat bersaing dalam dunia kerja adalah melaksanakan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Selain itu, disediakan pembekalan sertifikasi kompetensi bagi calon lulusannya,” ujarnya.
Termasuk, lanjut Kadisdik, mempersiapkan berbagai program, seperti teaching factory, link and match dengan pihak industri serta mengikutsertakan siswa mengikuti magang ke beberapa industri.
Sementara itu, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London, Aminudin mengatakan, terdapat perbedaan yang signifikan antara sistem pendidikan di Indonesia dengan Inggris.
Di United Kingdom (UK), siswa mendapat kebebasan dalam menentukan pendidikan sederajat usai lulus sekolah menengah pertama (SMP). Antara lain, sekolah khusus melanjutkan magang/bekerja atau bisa meneruskan ke universitas/khusus sekolah menuju pendidikan lanjutan.
“Sehingga, secara teori mereka cukup mendapatkan ilmu. Sedangkan di Indonesia, siswa masih kekurangan ilmu untuk melanjutkan ke sekolah kejuruan dan langsung bekerja,” ujar Aminudin.
Aminudin menegaskan, penekanan teori dan praktik memang harus diseimbangkan. “Sebenarnya pemerintah sudah melakukan tahap reformasi kualitas SMK. Ini dibuktikan dengan keluarnya Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 mengenai Revitalisasi SMK. Revitalisasi SMK sangat penting dilakukan saat ancaman teknologi destruktif mulai terlihat nyata di dunia industri,” tegasnya. (Red)