CIREBON, fajarsatu.- Menyusuri bangunan tua di seputaran Jalan Pasuketan dan Yos Sudarso, memang mengasyikan. Sejumlah bangunan tua masih berdiri tegak dan menawan. Tak lengkap rasanya jika tak berselfia ria.
Itulah yang banyak dilakukan wisatawan lokal Cirebon yang melintas di kawasan kota tua Cirebon. Sayangnya, kondisi tersebut masih dinikmati wisatawan lokal setempat, belum menjalar ke wisatawan “tetangga”.
Namun demikian, Wisata Kota Tua Cirebon menyimpan potensi yang mennggiurkan, terutama jika ditata dengan baik dengan mengembalikan kawasan tersebut menjadi kawasan tempo dulu semasa colonial Belanda, baik dari sisi lingkungan maupun jalan transposrtasi.
Berikut bangunan tua yang perlu polesan tangan professional pelaku pariwisata Kota Cirebon:
Kantor Pos Indonesia
Jalan Yos Sudarso, Cirebon
Dibangun tahun 1906
Melihat dari pegangan pintu masuk yang terbuat dari besi berlekuk, sudah bisa ditebak bangunan ini peninggalan zaman kolonial Hindia-Belanda. Begitu pula lubang surat di dinding bagian luar yang bertuliskan brievenbus (kotak surat). Jalan Anyer-Panarukan yang melintas yang melintas di kota Cirebon membuat proses pengiriman surat antar kota di Jawa pun menjadi lebih cepat. Itulah mengapa dikenal istilah ‘jalan raya pos’.
Gedung Bank Indonesia
Jalan Yos Sudarso, Cirebon
Dibangun tahun 1919
Gedung berwarna putih bergaya art deco ini dirancang oleh arsitek F.D. Cuypers & Hulswit. Digunakan sebagai kantor cabang ke-5 dari De Javanesche Bank. Pada zaman pendudukan Jepang nama De Javanesche Bank berganti menjadi Hanpo Kaihatsu Ginko. Kecuali saat pendudukan Jepang, selama 1866-1953 hampir semua urusan perbankan selalu dipegang atau dipimpin oleh bangsa Belanda. Barulah pada 1954, segala hal perbankan diambil alih seluruuhnya oleh bangsa Indonesia.
Gereja Santo Yusuf
Jalan Yos Sudarso, Cirebon
Dibangun tahun 1878
Ludovicus Theodorus Gonsalves commendator ordinis equestris S. Gregorii Magni. Hoc templum dei aedificavit. Anno dni MDCCCLXXX. ‘Tulisan di dinding luar bagian atas gereja ini, menyebut nama Ludovicus Theodore Gonzales yang membangun gereja di tanah miliknya. Hingga kini bangunan gereja masih dibuka bagi para umat Katholik untuk melakukan misa.
Gereja Kristen Pasundan
Jalan Kebumen, Cirebon
Dibangun tahun 1788
Tak jauh dari Gereja Santo Yusuf, ada pula gereja Protestan peninggalan Belanda, Protestanche Kerk.dibangun bergaya eropa segi 8. Dekat pintu masuk gereja terdapat tulisan ‘Dogter vanden koopman encheri: bons resident. Godfried Carell Gocking a en Johanna Maria Alting geborenden 7.9br 1788. En on gedoopt dendaar aanover leeden‘. Tampaknya ada hubungannya dengan tiga makam di halaman depan gereja tempat beristirahatnya Godfried Carell Gocking, opperkoopmen (pemimpin perwakilan VOC di Cirebon pada masa 1792-1800) beserta istri dan anaknya.
Gedung Cipta Niaga
Jalan Kebumen, Cirebon
Dibangun tahun 1911
Persis di sebelah Gereja Kristen Pasundan, didirikan sebuah gedung perniagaan. Di dinding bagian depan tertera tulisan ‘Internationale Rediet & Handelsveerining – Rotterdam’ semacam asosiasi kredit perdagangan. Di bagian menaranya ada pintu dan pagar besi setengah lingkaran dan tiang bendera. Terbayang kala itu yang berkibar bendera merah, putih, dan biru.
Gedung Eks BAT
Jalan Pasuketan, Cirebon
Dibangun tahun 1924
Gedung bergaya art deco ini juga dirancang oleh arsitek F.D. Cuypers & Hulswit dan menjadi kantor British American Tobacco. Bangunan dua lantai ini masih digunakan sampai berakhirnya Perang Dunia II dan masih terawat dengan baik hingga sekarang.
Gedung Bank Mandiri
Jalan Kantor no. 4, Cirebon
Dibangun tahun 1930-an
Letaknya berdampingan dengan Klenteng Tiao Kak Sie, gedung yang terletak di ujung perempatan ini merupakan bekas kantor Nederlandsche Indische Estompto Maastschappij (NIEM). Sebuah perusahaan Hindia-Belanda yang bergerak di bidang perbankan sekaligus sebagai pemegang monopoli pembelian hasil bumi di Nusantara dan penjualan ke luar negeri. (irgun)