BANDUNG – Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Barat mengapresiasi perkembangan media dan literasi dengan penguatan tradisi literasi para dai Dewan Dakwah Se-Jawa Barat. Dalam rangka itu, Dewan Dakwah mengadakan Pelatihan Jurnalistik sekaligus konsolidasi Dewan Dakwah Se-Jawa Barat pada Sabtu-Ahad (17-18/12)
Acara yang diselenggarakan di Balatkop Provinsi Jawa Barat di Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung tersebut dihadiri Ketua Majelis Syuro Dewan Dakwah Jawa Barat, Pengurus Dewan Dakwah Jawa Barat dan ratusan delegasi Dewan Dakwah Kota/Kabupaten se-Jawa Barat.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Dewan Dakwah Jabar, Ustadz Ro’inul Balad menyampaikan, acara ini merupakan respon sekaligus upaya meningkatkan kapasitas kejurnalistikan sekaligus kepenulisan para dai di Jabar pada era media yang terus geliat. Menurutnya, pada era ini para dai mesti memiliki keterpanggilan untuk menekuni dunia literasi.
“Kegiatan ini diarahkan untuk mempersiapkan para dai yang melek media dan responsif pada berbagai isu keumatan, termasuk meningkatkan kemampuan dalam menjaga umat dari berbagai serangan opini yang merusak. Hal ini sesuai dengan fokus Dewan Dakwah yaitu menjaga aqidah umat,” ujarnya.
Pada forum ini, Daud Abdullah didaulat sebagai narasumber untuk menyampaikan beberapa materi diantaranya “Menulis Naskah Berita”.
Menurutnya, dunia jurnalistik adalah dunia yang sangat potensial, terutama untuk menjaga dan menebar nilai-nilai (values). Bila tidak menjaga nilai maka media bakal kehilangan jejak bahkan tidak dianggap oleh masyarakat. Untuk itu, jurnalis mesti menjaga nilai tertentu dalam menjalankan tugasnya.
“Salah satu profesi yang akan hilang kedepan adalah wartawan, sebab semua orang bisa menjadi pembuat dan penebar berita di media sosial yang mereka miliki seperti facebook. Itu bisa dibaca oleh ribuan orang dan seketika bisa menyebar ke mana-mana. Untuk itu Dewan Dakwah sudah saatnya memiliki portal pemberitaan sendiri. Biayanya murah dan bisa diakses kapan saja,” katanya.
Lanjut Daud, standar paling sederhana bila hendak mendirikan media diperlukan persiapan yang cukup, misalnya, memiliki pemimpin redaksi, wakil pemimpin redaksi, redaktur, koordinator liputan, reporter, editor, kolumnis, fotografer, dan kameramen. Sementara standar sebuah berita bila memenuhi rumusan 5W dan 1H (What, Where, When, Why, Who dan How).
Menurutnya, siapapun bisa menjadi jurnalis atau membuat berita sekaligus menyebarkannya. Kuncinya adalah bakat dan keterampilan menulis. Kecepatan membuat tulisan dan menyebarkannya melalui media online menjadi kekuatan tersendiri. Sehingga perlu proses belajar dan latihan terus menerus.
“Kuncinya adalah adanya keterampilan dan bakat menulis juga,” tutupnya. (syam)